Saham Asia tegang di tengah kekhawatiran inflasi tinggi

Pekan ini, inflasi mengesampingkan hampir semua hal lain, karena itu mendorong ekspektasi Fed dengan satu atau lain cara dan itu sangat dominan

Hong Kong () – Saham-saham Asia cemas pada perdagangan Rabu pagi, karena kekhawatiran tentang melonjaknya harga listrik yang memicu inflasi membebani sentimen dan mendorong ekspektasi Amerika Serikat akan mengurangi program pembelian obligasi daruratnya, menahan dolar pada level tertinggi satu tahun.

Indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang naik 0,1 persen pada awal perdagangan, stabil setelah jatuh lebih dari 1,0 persen sehari sebelumnya, dalam kinerja harian terburuk dalam tiga minggu.

Pergerakan tampak lesu di sebagian besar pasar. Indeks saham unggulan China datar, indeks acuan Australia naik tipis 0,06 persen, sementara indeks Nikkei Jepang melemah 0,2 persen.

Pasar saham Hong Kong ditutup pada pagi hari karena topan.

Juga berkontribusi pada suasana yang tidak nyaman, investor menunggu serangkaian rilis data yang akan diterbitkan Rabu, termasuk angka perdagangan China, data inflasi harga konsumen AS, dan risalah pertemuan kebijakan Federal Reserve AS untuk September.

Awal musim laporan keuangan perusahaan AS yang menjulang juga menghalangi beberapa investor untuk memasang taruhan besar.

"Pekan ini, inflasi mengesampingkan hampir semua hal lain, karena itu mendorong ekspektasi Fed dengan satu atau lain cara dan itu sangat dominan," kata Stefan Hofer, kepala strategi investasi untuk LGT di Asia Pasifik.

"Musim laporan laba ini juga penting karena pada musim sebelumnya, laba terutama di AS sangat kuat, sebagian karena efek dasar. Kuartal ketiga mungkin sedikit lebih standar," tambahnya.

Federal Reserve AS semakin dekat untuk mulai mengurangi program pembelian obligasi besar-besaran bantuan pandemi, sebuah keputusan yang diperumit oleh meningkatnya kekhawatiran di seluruh dunia bahwa kenaikan biaya energi akan memicu inflasi sementara juga membatasi pemulihan ekonomi.

Harga minyak saat ini mendekati level tertinggi multi-tahun, tetapi lebih stabil di perdagangan pagi Asia.

Minyak mentah Brent turun 0,29 persen menjadi 83,18 dolar AS per barel, tak jauh dari tertinggi tiga tahun pada Senin (11/10) di 84,6 dolar AS, sementara minyak mentah AS turun 0,2 persen menjadi 80,48 dolar AS dari tertinggi tujuh tahun pada Senin (11/10) di 82,18 dolar AS.

Meskipun kekhawatiran inflasi meningkat, ada optimisme yang tumbuh tentang keadaan pemulihan ekonomi. Tiga pembuat kebijakan Federal Reserve AS pada Selasa (12/10) mengatakan ekonomi AS telah cukup pulih bagi bank sentral untuk mulai menarik dukungan era krisisnya.

Akibatnya, saham-saham tergelincir di Wall Street semalam. Indeks Dow Jones Industrial Average turun 0,34 persen, S&P 500 kehilangan 0,24 persen, dan Komposit Nasdaq turun 0,14 persen.

Kemungkinan tapering juga berarti dolar kuat, duduk tepat di bawah level tertinggi satu tahun dibandingkan mata uang utama lainnya yang dicapai pada hari sebelumnya.

Indeks dolar AS yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama rivalnya terakhir di 94,413, tak jauh dari tertinggi Selasa (12/10) di 94,563, tertinggi sejak September 2020.

Dolar sangat kuat terhadap yen dengan satu dolar dibeli 113,39 yen, mendekati level terendah tiga tahun pada Senin (11/10). Karena Jepang membeli sebagian besar minyaknya dari luar negeri, melemahnya yen berarti Jepang berjuang lebih keras dengan harga yang tinggi.

Emas stabil menjelang data dari AS dengan harga spot naik 0,04 persen menjadi 1.760 dolar AS per ounce, berada di pertengahan kisaran bulan ini.

 

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Ahmad Buchori
COPYRIGHT © 2021