Saham Asia menguat karena keputusan Fed tingkatkan sentimen risiko

Ekonomi tidak lagi membutuhkan peningkatan jumlah dukungan kebijakan.

Tokyo () – Saham-saham Asia mengikuti Wall Street lebih tinggi pada perdagangan Kamis pagi, setelah Federal Reserve AS mengatakan akan mengakhiri stimulus pembelian obligasi pada Maret untuk menetapkan tiga kenaikan suku bunga tahun depan guna mengatasi inflasi yang memanas.

Imbal hasil obligasi naik sementara dolar stabil setelah merosot semalam karena tempat berlindung aman atau aset-aset safe-haven tidak disukai. Emas naik bersama dengan minyak mentah.

"Ekonomi tidak lagi membutuhkan peningkatan jumlah dukungan kebijakan," kata Ketua Fed Jerome Powell dalam konferensi pers setelah kesimpulan dari pertemuan kebijakan dua hari.

Indeks Nikkei Jepang terangkat 1,67 persen dan menyentuh tertinggi intraday tiga minggu, sementara indeks acuan Taiwan meningkat 0,62 persen.

Namun, saham China Daratan tergelincir, dengan indeks saham-saham unggulan CSI300 melemah 0,12 persen.

Indeks MSCI dari saham Asia-Pasifik di luar Jepang bertambah 0,26 persen. Indeks E-mini berjangka AS menunjukkan kenaikan 0,12 persen untuk S&P 500, setelah reli 1,63 persen semalam untuk ditutup di dekat rekor tertinggi.

Baca juga: IHSG Kamis dibuka menguat 22,03 poin

Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) menyusun skenario di mana pandemi COVID-19, meskipun munculnya varian Omicron, memberi jalan kepada serangkaian kondisi ekonomi yang jinak, dengan penurunan inflasi sebagian besar dengan sendirinya, tingkat suku bunga meningkat relatif lambat, dan tingkat pengangguran tetap rendah di tahun-tahun mendatang.

"FOMC memberikan kemiringan hawkish untuk Natal (tetapi) pasar tampaknya telah mengambil langkah mereka mengingat tiga kenaikan hampir mendekati perkiraan dalam pertemuan," Tapas Strickland, direktur ekonomi di National Australia Bank, menulis dalam sebuah catatan untuk klien.

"Powell tidak berpikir The Fed berada di belakang kurva" dalam memerangi inflasi, tambah Strickland. "Sentimen risiko tetap positif."

Baca juga: Saham global dan imbal hasil obligasi naik setelah pertemuan Fed

Pasar uang melihat peluang bagus untuk kenaikan suku bunga Fed pertama pada Mei, diikuti oleh lebih banyak lagi pada September dan Desember, meskipun kenaikan suku bunga tiga perempat poin tidak sepenuhnya diperkirakan hingga Februari 2023.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS sepuluh tahun naik tipis menjadi 1,4718 persen, menambah kenaikan Rabu (15/12/2021).

Imbal hasil obligasi pemerintah Australia dengan jatuh tempo yang setara melonjak 3,7 basis poin menjadi 1,617 persen.

Indeks dolar AS, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, naik 0,02 persen menjadi 96,399, stabil setelah kerugian 0,21 persen semalam.

Emas naik 0,16 persen menjadi 1.779,88 dolar AS per ounce.

Minyak mentah AS dan Brent masing-masing naik sekitar satu dolar menjadi 71,85 dolar AS dan 74,78 dolar AS per barel.

Perhatian sekarang beralih ke pengumuman kebijakan Kamis malam dari Bank Sentral Eropa dan bank sentral Inggris, yang juga menghadapi inflasi yang memanas.

Bank-bank sentral berusaha menyeimbangkan kebutuhan untuk mendukung ekonomi yang terancam oleh virus corona dengan kebutuhan untuk menarik uang longgar untuk mendinginkan inflasi.

ECB diperkirakan akan menarik kembali stimulus satu tingkat lagi, tetapi akan menjanjikan dukungan berlebihan untuk tahun depan, berpegang teguh pada pandangan lama bahwa tekanan harga akan mereda dengan sendirinya.

Namun, investor secara tajam meningkatkan taruhan mereka bahwa BoE akan menaikkan suku bunga setelah sebuah laporan pada Rabu (15/12/2021) menunjukkan inflasi harga konsumen Inggris melonjak pada November ke level tertinggi dalam lebih dari 10 tahun, melebihi semua perkiraan dari para ekonom.

Sterling turun menjadi 1,32575 dolar AS setelah naik 0,28 persen semalam. Euro tergelincir 0,07 persen menjadi 1,1287 dolar AS setelah lonjakan 0,34 persen pada Rabu (15/12/2021).

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © 2021