WINA – Sebuah perusahaan teknologi di Wina, Austria, mengembangkan sepatu pintar untuk tunanetra atau mereka yang menyandang gangguan penglihatan.

Emanuel Zuendel terlahir dengan kondisi buta sebagian. Pria berusia 37 tahun ini, bisa melihat cahaya dan kegelapan tetapi tidak dapat melihat jelas benda-benda di sekelilingnya. Ia membutuhkan tongkat sepanjang hidupnya untuk bergerak dengan aman dan menghindari rintangan.

Sekarang ia mencoba sesuatu yang baru, yakni sepatu pintar. Sepatu ini, dilengkapi dengan sistem peringatan berdasarkan sinyal ultrasuara yang dapat mendeteksi rintangan dari jarak yang lebih jauh dari tongkat.

Walhasil, penggunanya bisa menghindari rintangan dan bahkan sentakan yang tidak menyenangkan karena menabrak tongkat sendiri.

Baca Juga: Demi Pengguna Tunanetra, Facebook Tingkatkan Teknologi Kecerdasan Buatan

Zuendel mengatakan sambil tertawa, “Jika saya memiliki sepatu seperti ini sewaktu masih anak-anak, saya akan menyelamatkan diri dari beberapa memar yang buruk.”

Sepatu, yang disebut “InnoMake”, menggunakan algoritma inovatif untuk mengirim dan menerima sinyal ultrasuara saat pemakainya berjalan.

CEO Tec-Innovation Kevin Pajestka, yang mengembangkan sepatu itu, mengatakan, sistem pendeteksi yang terpasang di sepatu bisa mengetahui seberapa jauh pemakainya dari rintangan dan mengirimkan peringatan hingga tiga meter di depannya.

“Di sini, di bagian depan sepatu, ada sensor ultrasuara. Tapi bagaimana cara kerja sensor ultrasuara itu? Ini bisa dibandingkan dengan bunyi yang kita hasilkan ketika kita berbicara. Sebuah sensor mengirimkan suara akustik itu dan kemudian memantulkan pada penghalang. Kemudian kembali ke sensor lain yang menerima refleksi ini dan waktu yang dibutuhkan kemudian diukur, sehingga memungkinkan untuk menghitung jarak antara sensor dan penghalang. Ini berarti kita bisa menghindari kecelakaan yang tidak bisa dihindari oleh tongkat.”

Pemakai sepatu pintar diperingatkan melalui peringatan getar yang datang dari dalam sepatu atau melalui suara tertentu yang datang dari ponsel pintar mereka. Terserah kepada para pengguna seberapa dini dan dengan cara apa mereka ingin diperingatkan.

Markus Raffer, yang juga menjabat sebagai CEO di Tec-Innovation, sangat bersyukur dengan temuan timnya.

“Saya sendiri cacat secara visual sejak lahir. Penglihatan saya hanya berfungsi sekitar 3 hingga 4 persen. Saya telah mencoba banyak perangkat dan alat bantu yang berbeda untuk waktu yang lama tetapi tidak pernah menemukan apa pun yang membuat saya bahagia. Ketika saya mendengar ide ini, yakni membangun sistem peringatan di dalam sepatu, saya langsung tertarik. Banyak penemuan lain yang gagal karena tidak dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.

Bagi Zuendel sendiri, sepatu ini sangat berguna ketika rintangan tambahan muncul di rute jalan yang sudah diketahuinya dan biasa dilaluinya dengan berjalan cepat.

“Di musim dingin, misalnya, saya bisa dengan mudah menghindari tumpukan salju yang diletakkan di jalanan. Sepatu itu memudahkan saya berjalan melalui area dengan banyak rintangan,” katanya.

1
2
  • #Sepatu Pintar untuk Tunanetra
  • #Tunanetra
  • #Sepatu Pintar