Peningkatan ekspor ikan harus diimbangi pemenuhan kebutuhan domestik

Negara kita memang sangat kaya akan sumber daya alamnya. Namun dengan melimpahnya pangan nasional, jangan sampai penduduknya malah kekurangan. Perlu di ketahui, bahwa tiap penduduk Indonesia ini butuh protein ‘rata-rata’ sekitar 46 gram/hari untuk wa

Jakarta () – Anggota Komisi IV DPR RI Andi Akmal Pasluddin mengapresiasi kinerja Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dalam meningkatkan ekspor perikanan, tetapi hal itu harus diimbangi dengan pemenuhan kebutuhan domestik perikanan di Tanah Air.

Andi Akmal Pasluddin dalam siaran pers di Jakarta, Minggu, mengingatkan, meski kinerja ekspor perikanan mengalami tren yang positif, namun pemerintah juga mesti memperhatikan kebutuhan dalam negeri terutama untuk memenuhi protein tiap penduduk Indonesia.

Capaian kinerja ekspor hasil perikanan pada Januari-Oktober 2021 mencapai 4,56 miliar dolar AS, atau meningkat 6,6 persen dibanding periode yang sama pada 2020.

"Negara kita memang sangat kaya akan sumber daya alamnya. Namun dengan melimpahnya pangan nasional, jangan sampai penduduknya malah kekurangan. Perlu di ketahui, bahwa tiap penduduk Indonesia ini butuh protein ‘rata-rata’ sekitar 46 gram/hari untuk wanita, dan rata-rata 56 gram/hari untuk pria," kata Akmal.

Ia mengingatkan bahwa program gemar makan ikan yang sudah berjalan baik perlu lebih digalakkan karena jangkauannya dinilai masih kurang luas dan intensif.

Apalagi, Akmal juga mengingatkan bahwa masih banyak wilayah Indonesia yang masyarakatnya kurang gemar mengkonsumsi ikan.

"Ini boleh jadi karena pada suatu daerah tertentu, harga ikan dirasa cukup mahal atau ketersediaannya sangat minim," ucap Akmal.

Selain itu, ujar dia, sumber daya alam yang baik di negara ini juga perlu diimbangi dengan cara mengeksplorasi secara optimal dengan memperhatikan aspek lingkungan yang berkelanjutan.

Lektor Kepala Politeknik Ahli Usaha Perikanan, Dr. Niken Dharmayanti mengungkap sebuah survei terhadap 4 kelompok pengonsumsi ikan dengan frekuensi yang berbeda dan diamati selama 16 tahun.

Kelompok pertama makan ikan tiap hari, kedua makan ikan kadang-kadang, ketiga jarang sekali makan ikan dan terakhir tidak makan ikan sama sekali.

"Hasil kelompok 1 pada umumnya memiliki angka kematian yang rendah dibandingkan kelompok 4 berkaitan berbagai macam kanker, jantung dan hepatitis," ucapnya.

Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mendorong peningkatan konsumsi ikan di tengah pandemi COVID-19, terlebih karena di dalam ikan terkandung imunostimulan atau senyawa yang dapat menstimulus imun dalam tubuh.

Terkait dengan konsumsi ikan, sebelumnya Anggota Komisi IV DPR RI Slamet menyatakan tingkat konsumsi ikan nasional perlu seperti di Jepang agar dapat mengatasi sejumlah permasalahan gizi seperti mengentaskan fenomena stunting di Tanah Air.

"Kalau mau cerdas idealnya seperti di Jepang 140 kilogram per kapita per tahun. Target kita nasional (2021) ada di angka 60 kilogram per orang per tahun untuk mengonsumsi ikan," kata Slamet.

KKP menargetkan tingkat konsumsi ikan sebesar 62,05 kg/kapita/tahun pada 2024 dari yang sebelumnya 56,39 kg/kapita/tahun pada 2020.

 

Pewarta: M Razi Rahman
Editor: Ahmad Buchori
COPYRIGHT © 2021