Dolar stabil saat investor tunggu serangkaian pertemuan bank sentral

Singapura () – Dolar melayang di dekat posisi terendah baru-baru ini di perdagangan Asia pada Selasa pagi, karena para pedagang bersiap untuk serangkaian pertemuan bank sentral mulai dari Australia, Eropa hingga Kanada minggu ini, mencari tanda-tanda bahwa mereka membuat kemajuan menuju normalisasi kebijakan.

Kemungkinan penundaan tapering (pengurangan pembelian obligasi) di Amerika Serikat, setelah data pekerjaan yang lebih lemah dari perkiraan pada Jumat (3/9/2021), telah menempatkan fokus ekstra pada pembuat kebijakan di tempat lain dan memberi tekanan terhadap dolar.

Pertama adalah pertemuan bank sentral Australia, di mana pengumuman dijadwalkan pada pukul 04.30 GMT. Dolar Australia telah menghentikan reli baru-baru ini karena pasar menunggu untuk melihat apakah penguncian di Sydney dan Melbourne telah menggagalkan rencana untuk mengurangi pembelian obligasi.

Aussie terakhir dibeli 0,7447 dolar AS.

Jika bank sentral menghentikan rencana tapering-nya, para pedagang kemungkinan akan menjual mata uang tersebut, kemungkinan mendorong Aussie menuju level support-nya di sekitar 0,7420 dolar AS, menurut analis IG Markets Kyle Rodda. Sebuah bank sentral yang hawkish akan mengirim mata uangnya lebih tinggi, katanya.

Pasar juga menunggu data perdagangan China yang akan dirilis sekitar pukul 03.00 GMT, diperkirakan akan terbebani oleh perlambatan pertumbuhan dan gangguan dari penutupan pelabuhan terkait COVID.

Pada Rabu (8/9/2021), bank sentral Kanada, Bank of Canada, diperkirakan akan mempertahankan suku bunganya tak berubah, tetapi mempertahankan jalur kenaikan sebelum akhir tahun, menghilangkan kontraksi mengejutkan dalam ekonomi Kanada pada kuartal kedua.

Dolar Kanada melayang di dekat level tertinggi dalam sekitar tiga minggu dan berada di atas rata-rata pergerakan 200 hari di 1,2525 dolar Kanada per dolar AS.

Acara utama minggu ini jatuh pada Kamis (9/9/2021) ketika Bank Sentral Eropa (ECB) bertemu, dengan fokus pada potensi penurunan laju pembelian obligasi, terutama setelah beberapa komentar hawkish dari pembuat kebijakan minggu lalu.

Mayoritas ekonom yang disurvei oleh Reuters memperkirakan perlambatan pembelian obligasi ECB, terutama setelah data pekan lalu menunjukkan inflasi melonjak ke level tertinggi 10 tahun. Tapi reli semalam di saham dan penurunan euro menunjukkan pedagang mungkin tidak bertaruh pada skenario seperti itu.

Setelah menyentuh level tertinggi satu bulan, setelah data tenaga kerja AS mengecewakan pada Jumat (3/9/2021), euro tidak mampu bertahan di atas 1,19 dolar AS dan terakhir dibeli 1,1881 dolar AS.

Di tempat lain, yen Jepang menguat di 109,76 per dolar dan sterling stabil di 1,3848 dolar. Dolar Selandia Baru naik tipis 0,3 persen karena negara itu tampaknya menahan wabah virus corona dan pasar swap memperkirakan hampir 100 basis poin pengetatan kebijakan pada Mei.

Membayangi pasar dan pertemuan bank sentral minggu ini adalah sikap Federal Reserve AS, yang telah menandai pengurangan pembelian aset sebelum akhir tahun tetapi mengatakan itu tergantung pada pasar tenaga kerja yang tiba-tiba terlihat goyah.

Angka penggajian Jumat (3/9/2021), yang menunjukkan 235.000 pekerjaan diciptakan bulan lalu terhadap ekspektasi ekonom sebesar 728.000 sudah cukup untuk menenggelamkan peluang pengumuman tapering bulan ini, kata kepala strategi NatWest, John Briggs dalam sebuah catatan – tetapi tidak menjadi jelas untuk satu bulan lagi berapa lama penundaan itu.

“Itu tidak serta merta menggagalkan jadwal kami saat ini dari pengumuman November untuk awal Desember,” tambah Briggs, dikutip dari Reuters. "Laporan penggajian berikutnya pada 8 Oktober sekarang tampak sangat besar sebagai peristiwa utama dalam mempertimbangkan waktu tapering."

Di pasar mata uang kripto, Bitcoin bertahan di atas 50.000 dolar AS pada 52.497 dolar AS dan Ether, rivalnya yang lebih kecil, diperdagangkan sedikit berubah pada 3.897 dolar AS setelah mencapai 4.000 dolar AS minggu lalu untuk pertama kalinya sejak pertengahan Mei.

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © 2021