KLATEN Pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung lebih dari setahun di Klaten memukul telak sebagian besar pekerja, dari berbagai sektor tak terkecuali dalang selaku pekerja seni dan hiburan.

Nasib para dalang hingga kini masih terpuruk akibat pandemi Covid-19. Selama 1,5 tahun terakhir, mereka nyaris tak mayang alias mementaskan wayang kulit. Aturan pentas secara virtual dinilai belum memberikan solusi bagi para seniman terutama dalang.

Baca juga:  Long Covid-19 ” href=”https://nasional.okezone.com/read/2021/06/03/337/2419802/masyarakat-perlu-mewaspadai-gejala-long-covid-19″>Masyarakat Perlu Mewaspadai Gejala Long Covid-19

Pentas wayang kulit tak laku ketika ditawarkan secara virtual. Berbulan-bulan tak mendapatkan penghasilan membuat mereka mencari berbagai cara untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Mobil, tanah, hingga sebagian alat pentas mereka jual demi memenuhi kebutuhan.

Ki Kusni Kesdik (51), seorang dalang asal Desa Duwet, Kecamatan Ngawen, Klaten, terdampak cukup parah dari pandemi Covid-19. Ia sampai menjual mobil hingga truk yang biasa digunakan untuk mengangkut alat pentas.

“Jual truk hitungannya rugi. Dari harga Rp100 juta saya jual Rp55 juta. Itu sudah saya jual 10 bulan lalu. Terpaksa saya lakukan untuk mencukupi kebutuhan,” kata Kusni saat ditemui wartawan di Pemkab Klaten, Kamis (3/6/2021).

Baca juga:  Punya sensitivitas 94,5%, Swab Antigen Elecsys Solusi Deteksi Covid-19

Sebelum ada pandemi Covid-19, Kusni bisa mementaskan wayang kulit ke berbagai daerah. Tak hanya Klaten, Kusni kerap mendapatkan permintaan tampil di luar Jawa seperti Kalimantan dan Sumatra.

15 Kali Pentas Sebulan Sebelum Pandemi

 

Dalam sebulan sebelum pandemi Covid-19, rata-rata dalang asal Ngawen, Klaten, itu bisa menerima permintaan 10-15 kali pentas wayang kulit.

Jumlah itu belum termasuk pada bulan-bulan tertentu ketika banyak warga yang menggelar kegiatan tradisi di daerah masing-masing dengan menampilkan wayang kulit. Misalnya saat Ruwah, Syawal, hingga Sura.

Namun, kondisinya berubah 180 derajat sejak ada pandemi. Seketika aktivitas Kusni mendalang macet total. Sebanyak 18 pentas wayang kulit yang sudah direncanakan batal.

Hingga kini, tak ada yang menanggapnya untuk mementaskan wayang kulit. “Ya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari utang dan sebagainya,” ungkapnya.

Dalang asal Ngawen, Klaten, itu pun mengaku tak tahu pasti nasib orang-orang yang selama ini membantunya ketika pentas sebagai dampak pandemi Covid-19. Setidaknya, ada 25 orang yang terlibat dalam sekali pentas wayang kulit termasuk para pemain karawitan.

Kusni mengakui ada kelonggaran dengan menggelar pentas secara virtual. Sayangnya, pentas secara virtual tak laku untuk wayang kulit.

“Warga belum bisa menerima. Paling satu atau dua orang yang bersedia menggelar pentas secara virtual. Anggapan warga kalau virtual itu tidak boleh menonton,” kata Kusni.

Jual Mobil Innova untuk Bertahan Hidup

Nasib serupa dialami salah satu dalang kondang asal Klaten, Ki Tantut Sutanto (43), yang terdampak pandemi Covid-19. Pria asal Desa Kurung, Kecamatan Ceper, itu sampai menjual satu unit mobil Kijang Innova seharga Rp225 juta.

Selain itu, Tantut menjual satu kotak wayang miliknya seharga Rp120 juta. “Saya jual untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari,” jelas Tantut.

Tantut mengatakan sudah mencoba beralih usaha lain selama tak bisa pentas karena pandemi Covid-19. Seperti bertani hingga berdagang. Namun, hasilnya gagal.

“Saya mencoba bertani menanam lombok. Modal habis Rp6 juta tetapi panennya paling laku Rp50.000,” kata Tantut.

Dalang asal Ceper, Klaten, itu pun mengakui pentas secara virtual sebagai alternatif selama pandemi Covid-19 tak bisa memulihkan kondisi lantaran tak laku. Tantut sampai menawarkan ke berbagai pihak agar ada yang bersedia menanggap pentas wayang kulit secara virtual namun tak banyak yang berbuah hasil.

“Justru secara virtual kami yang jemput bola. Kami mencoba menghubungi mereka yang cinta wayang kulit. Saya tiga kali pentas virtual, tombok saron satu set. Satu set saron yang seharusnya seharga Rp10 juta terpaksa dijual hanya Rp6 juta untuk menutup kebutuhan pentas,” kata Tantut.

Tulang Punggung Keluarga

Tantut mengaku hingga kini masih mempertahankan sebagaian alat pentas wayang kulit yang dia miliki. Namun, jika kondisi tak kunjung membaik dan tetap sepi tanggapan pentas wayang kulit, bisa jadi pada Agustus mendatang ia akan menjual seluruh peralatannya demi menutup kebutuhan hidup.

Dalang lainnya asal Klaten, Gatot Purwopandoyo (32), juga terpaksa menjual satu unit mobil serta tanah warisan dari orang tuanya di Blitar demi menutup kebutuhan hidup selama pandemi Covid-19. Hal itu lantaran Gatot merupakan tulang punggung keluarga.

“Kami memohon kepada pemerintah memberikan kelonggaran di dunia pedalangan,” kata dalang asal Desa Malangjiwan, Kecamatan Kebonarum tersebut.

1
3
  • #Dalang Wayang
  • #Virus Corona
  • #Pandemi Covid-19
  • #Cerita Dalang