Beroperasi 65 Tahun, Pesawat Mata-Mata Ini Terlalu Berharga Dipensiunkan

https: img.okezone.com content 2020 12 26 18 2333976 beroperasi-65-tahun-pesawat-mata-mata-ini-terlalu-berharga-dipensiunkan-6gkMpKj23n.jpg

LOCKHEED U-2 merupakan pesawat mata-mata yang telah beroperasi selama 65 tahun. Saat ini, pesawat mata-mata tersebut masih bisa diandalkan untuk terbang dalam misi da lingkungan yang tak dapat dilakukan pesawat laut.

Dengan bentuk pesawat yang lebar, dua kali panjangnya, Lockheed U-2 adalah pesawat mata-mata paling khas milik Angkatan Udara Amerika Serikat.

Juga pesawat yang paling sulit diterbangkan. Karena alasan inilah ia diberi julukan “The Dragon Lady”.

U-2 memiliki badan pesawat sepanjang 19m, dua aspek ketinggian, sayap yang berfungsi untuk meluncur alih-alih menyapu udara, dan mesin kuat yang dirancang untuk membuat pesawat terbang lebih tinggi dari 70.000 kaki (21km) – dan, yang terpenting, bertahan terbang di sana.

U-2 dirancang untuk beroperasi di ketinggian itu, sekaligus dengan kecepatan yang nyaris maksimal sepanjang misi, yang bisa bertahan hingga berjam-jam. Para pilot menyebut ketinggian jelajahnya sebagai “sudut peti mati”.

Desain pesawat ini ramping, meski terkadang sulit dilihat. Kerap kali, U-2 tertutup oleh berbagai pod, antena yang mencuat, tonjolan misterius yang menyembunyikan sensor, radar, kamera, dan alat komunikasi apa saja yang dibutuhkan untuk menyelesaikan misi.

Peralatan sensor ini bisa dibongkar pasang ke pesawat, semudah membangun pesawat model. Ada mitos yang berkembang soal tonjolan-tonjolan ini, bahwa mereka berisi perangkat siluman – sebuah sinyal elektronik yang membuat U-2 tak terlacak oleh radar.

Pada ketinggian 70.000 kaki ke atas, “Dragon Lady” menguasai sebagian besar angkasa sendirian, keadaannya masih sama saat ini seperti 65 tahun lalu ketika U-2 pertama kali lepas landas.

Di ketinggian ini, peran pilot tak ubahnya astronaut ketimbang penerbang. Di dalam kokpit bertekanan udara U-2 yang seperti kepompong, pilot harus memakai pakaian dan helm khusus yang dilengkapi dengan oksigen 100%. Beberapa perlengkapan ini bahkan bisa ditemukan di pakaian antariksa yang digunakan saat ini.

Di udara, batas antara hidup dan mati sangat tipis. Pilot menghadapi bahaya hipoksia ( kekurangan oksigen) dan penyakit dekompresi yang disebabkan oleh ketinggian yang tak biasa.

Sama seperti pesawat lain, U-2 harus terbang cukup cepat sehingga pesawat tidak berhenti, dan tak terlalu cepat sehingga badan pesawat copot. Tantangan bagi pada pilot U-2, pada ketinggian 70.000 kaki, perbedaan antara dua kecepatan ini hanya beberapa mil per jam.

Dorongan yang tak disengaja pada kontrol bisa saja menyebabkan bencana.

Jika pesawat ini terbang rendah, kendali mekanik yang mudah diatur ketika sedang terbang tinggi menjadi sensitif dengan daya otot. Desain ringan U-2 membuat pesawat ini mampu melayang di atas landasan pacu, memantul kembali ke udara bila pendaratan terlalu keras, dan sangat sensitif terhadap angin silang.

Roda pendaratan yang ringan dan bergaya mirip roda sepeda bisa jadi menyulitkan – dan butuh kerja keras – untuk menjaga pesawat tetap lurus dengan sayap seimbang saat melambat.

Jarak pandang dari kokpit sangat terbatas, sehingga saat mendarat, pilot harus mengandalkan instruksi dari pilot U-2 lain yang mengendarai mobil dan melaju di atas landasan pacu untuk memandu proses pendaratan.

Mobil pengejar ini bisa melesat dengan kecepatan mendekati 140mph (224km/jam).

“U-2 sangat menarik bagi pilot yang ingin berkata, ‘Saya menerbangkan pesawat tersulit yang ada di inventaris’,” kata Greg Birdsall, wakil manajer program U-2 Lockheed Martin.

“Mereka menguji kandidat pilot dengan cara menempatkan mereka di pesawat latih dengan instruktur pilot berpengalaman duduk di kursi belakang untuk melihat, bagaimana kandidat menyesuaikan diri dengan cara menangani pesawat yang aneh.

Hanya sekitar 10-15% pilot yang mendaftar untuk bergabung dengan program ini yang diterima.

Di era otomatisasi dan algoritma, mudah membayangkan bahwa pesawat mata-mata ini, dengan pilot dan “kemampuan khusus” mereka adalah sisa-sisa peninggalan dari Perang Dingin. Salah.

Selama 31 tahun setelah Tembok Berlin runtuh, U-2 telah berhasil mencuri dengar percakapan atau tulisan, mendapatkan sinyal-sinyal elektronik, mengambil foto-foto, dan menggunakan radar khusus untuk menangkap citra digital.

U-2 bahkan memiliki sejumlah peran baru, seperti menyiarkan data. Kemampuannya untuk terbang tinggi di angkasa berarti ia memiliki posisi sempurna untuk menyiarkan informasi dari medan perang ke markas.

Dalam perjalanannya, U-2 terbukti bertahan lebih lama ketimbang pesawat-pesawat pengintai yang lebih baru dan mengambil alih fungsi satelit yang sebenarnya dibuat untuk menggantikannya.

Kini, sebanyak 31 pesawat U-2 yang beroperasi di Angkatan Udara AS akan mendapatkan pembaruan senilai US$50 juta (Rp712 miliar) dan misi baru, yang memungkinkan mereka terbang hingga 30 tahun lagi.

Di masa depan, U-2 mungkin saja berhadapan dengan drone yang masih dirahasiakan dan keberadaannya belum secara resmi diakui.

“Program ini tidak akan berhenti dan kami berinvestasi besar-besaran untuk membawa U-2 ke lingkungan misi barunya,” kata Direktur Program Lockheed Martin U-2, Irene Helley.

Meski bukan barang peninggalan, pesawat U-2 identik dengan Perang Dingin. Pada 1950-an, pemerintahan Presiden Dwight D Eisenhower menerima beberapa kejutan tentang kemampuan nuklir Soviet.

Amerika tak tahu-menahu karena ada kegagalan intelijen. Uni Soviet adalah negara tertutup yang sulit ditembus oleh Badan Intelijen Pusat (CIA). Kurangnya mata-mata di tempat yang tepat berarti presiden membutuhkan pesawat mata-mata yang bisa terbang di ketinggian dan memberi tahu apa yang sedang direncanakan Uni Soviet. Dan ia membutuhkannya dengan cepat.

Di Lockheed, tim mekanik jenius yang dipimpin Kelly Johnson membuatnya untuk sang presiden.

Tim rahasia yang kemudian diberi nama “Skunk Works” ini lahir setelah Johnson dan para insinyurnya merancang dan membangun badan pesawat jet pertama milik AU AS hanya dalam 143 hari pada 1943. Pada 1954, tim yang sama mulai mengerjakan U-2.

Pesawat mata-mata ini harus bisa terbang di atas ketinggian 70.000 kaki, memiliki jangkauan 3.000 mil (4.800km) dan membawa peralatan seberat 212kg.

Delapan bulan kemudian, U-2 lepas landas untuk pertama kalinya, pada 1 Agustus 1955 di lokasi terpencil di Nevada yang sekarang dikenal sebagai Area 51.

Jelas sudah, Johnson dan timnya telah membuat sesuatu yang istimewa.

“U-2 menandai dimulainya pergeseran menuju intelijen teknikal yang mampu menyelesaikan permasalahan-permasalahan intelijen di lapangan, bukan dengan cara seperti dalam novel-novel spionase, tapi melalui teknologi yang canggih,” kata Peter J Westwick, direktur Proyek Sejarah Dirgantara di Institut Huntington-USC di California dan Barat.

Westwick yang juga penulis buku “Stealth: The Secret Contest to Invent Invisible Aircraft” berkata, “U-2 adalah lompatan besar pertama dalam intelijen teknis.”

Kisah tentang U-2 bisa jadi sangat berbeda. Pada 1966, masa depannya tampak suram; hanya 15 dari 55 pesawat U-2 yang masih beroperasi.

Keputusan lalu dibuat untuk memulai kembali produksi pada 1980-an, sebuah langkah yang rumit dilaksanakan karena kebanyakan insinyur aslinya telah pensiun.

Pesawat-pesawat yang dihasilkan dalam proyek ini memang tampak serupa dengan pesawat U-2 versi orisinal, tapi ukurannya nyaris 40% lebih besar dan dilengkapi desain modular untuk membawa peralatan lebih banyak dan lebih besar, sehingga lebih mudah diganti-ganti sesuai misi berbeda.

U-2 yang masih beroperasi hari ini bisa membawa nyaris tiga kali lipat beban lebih banyak, terbang dua kali lebih jauh, dan tiga kali lebih lama dari versi awalnya.

Pada 1990-an, U-2 diperbarui lagi; proses ini masih berlanjut hingga hari ini.

Sejauh ini, U-2 setidaknya sudah lima kali terancam diganti. Yang pertama, pada 1970-an, oleh generasi pertama pesawat nirawak atau unmanned aerial vehicles (UAV).

Northrup Grumman RQ-4 Global Hawk yang mirip paus, pesawat pengintai yang dikendalikan dari jarak jauh, adalah salah satu yang terbaru.

Namun untuk membiayai pembaruan U-2, proyek pembuatan 24 Global Hawk harus dibatalkan.

Setelah mengesampingkan Global Hawk, evolusi U-2 dapat berlanjut. Perubahan selanjutnya pada pesawat ini akan termasuk sistem aviasi yang lebih baik, kokpit dengan layar sentuh (yang bisa dioperasikan meski pilot memakai pakaian bertekanan udara), dan komputer misi baru yang memungkinkan pesawat menjalankan Open Mission System baru.

Ini membuat pesawat mata-mata menjadi mirip dengan sistem Android yang ada di ponsel Anda. OMS akan memungkinkan pesawat seperti U-2 berbicara dengan sistem operasi komputer di berbagai tank, kapal, pesawat, satelit, dan bahkan senjata siber.

“Apakah U-2 bisa dipakai hingga 30 tahun lagi, semuanya tergantung pada para jenius yang merancang pesawat tersebut,” ujar Helley.

“Ketika kami mulai membuat versi barunya, U-2 dibuat dengan daya dan ruang yang sangat besar. Dan cara modularnya didesain ulang, memungkinkan kami untuk terus meningkatkannya atau melengkapinya guna melakukan berbagai jenis misi.

“Kita bisa mengembangkan konsep, lalu melakukan demo penerbangan, kemudian mengetes di lapangan dalam beberapa minggu atau bulan.”

Sejauh ini, U-2 masih sangat menguntungkan. “Dia telah membuktikan performa yang sangat bagus,” kata Halley.

“Ada pula yang mengatakan bahwa rangka badan pesawatnya pada dasarnya masih remaja. Mereka masih memiliki 80% masa pakai yang tersisa.”

Pesawat dengan awak juga secara umum lebih baik dalam menghadapi masalah atau kejutan.

“Jika Anda melihat ke peralatan luar angkasa atau sejumlah alat mata-mata lainnya, mereka sangat bergantung pada tahap pra-perencanaan untuk menyediakan informasi yang dibutuhkan.

“Sebaliknya, U-2 selalu tersedia dan bisa digunakan saat itu juga.”

“Yang kerap ditanyakan pada saya adalah, mengapa satelit tidak bisa melakukan apa yang dilakukan U-2?” ujar Chris Pocock, mantan jurnalis aviasi dan penulis sejumlah buku tentang U-2.

“Satelit memang memiliki kemampuan luar biasa sekarang, tapi jalur orbitnya bisa diprediksi. Artinya, satelit mata-mata yang mengorbit rendah tidak bisa berada di satu area terlalu lama, sementara U-2 bisa melayang di atas suatu area untuk waktu yang lama.”

Satelit juga rentan terhadap berbagai gangguan, seperti laser yang bisa membutakan satelit pengintai, pengacak sinyal, bahkan rudal yang bisa merusak atau menghancurkan satelit vital.

U-2 telah membantu merintis penggunaan tautan data untuk menyampaikan informasi intelijen ke markas-markas yang berjarak ribuan kilometer, dengan cara pertama-tama memantulkan sinyal ke satelit di atasnya.

Peran ini akan menjadi lebih penting sekarang, karena AU AS berambisi agar semua komputernya, terlepas dari perusahaan mana yang membuatnya, untuk dapat berbicara satu sama lain.

Sensor kamera baru akan ditambahkan dan dilepaskan dari pesawat lebih cepat dan lebih murah daripada sebelumnya.

Meski begitu, U-2 memiliki satu masalah: ia tidak terlalu siluman.

Artinya, pesawat U-2 tidak bisa terbang di atas wilayah udara negara lain tanpa sepengetahuan mereka. Baru-baru ini, militer China mendapati U-2 terbang di atas kamp militer mereka di Laut China Selatan.

Saat ini, rupanya, kontraktor pertahanan AS Northrup Grumman telah membangun armada kecil drone rahasia untuk tujuan ini. Beberapa orang yakin drone-drone ini nantinya akan menggantikan U-2.

Drone-drone yang belum diumumkan secara resmi ini sekarang disebut dengan kode RQ-180.

Mereka akan mampu mengintai di ketinggian dan tahan lama, juga kemungkinan memiliki perangkat siluman — tidak ada yang tahu pasti karena sejauh ini hanya ada foto-foto perangkat ini yang beredar dan belum dikonfirmasi.

Jika benar, fitur ini menakjubkan untuk era digital.

Perangkat siluman adalah bagian fiksi dari teknologi siluman yang bisa membuat pesawat atau pesawat luar angkasa tak kelihatan.

Drone-drone yang diklasifikasikan sebagai top secret terkenal karena warna terang tak biasa yang membuat mereka susah dilihat.

RQ-180 mendapat julukan “Great White Bat” atau “Shikaka”, diambil dari nama kelelawar putih fiksi dalam film Ace Ventura 2.

“Apa pun yang saya katakan harus dianggap sementara,” ujar Pocock. “Drone ini harus sangat siluman bila akan memasuki wilayah terlarang dan melakukan apa yang dilakukan U-2 di atas wilayah yang bersahabat.

“Tapi saya kira dia tidak akan menggantikan U-2 karena ternyata harganya sangat mahal dan mereka tidak membuat banyak [hanya tujuh] dan mungkin tidak akan ada banyak kesempatan di mana mereka bisa mendapat izin terbang.”

Satelit mikro menjadi ancaman yang lebih besar bagi masa depan U-2. Satelit-satelit ini memiliki bobot 10-100kg, cukup kecil untuk diluncurkan dari pesawat luar angkasa, sama seperti Boeing X-37.

“Satelit-satelit mikro ini bisa diluncurkan dari satu peluncur roket dalam jumlah besar, sehingga mereka mampu memberi jawaban atas kerentanan satelit mata-mata di orbit rendah Bumi,” ujar Pocock,

“Jika Anda memiliki 10 atau lebih satelit yang mengelilingi Bumi seperti rantai, maka Anda bisa mendatangi kembali tempat yang sama di Bumi dalam hitungan jam, bukan hari.”

Namun Helley masih yakin U-2 akan bisa menyingkirkan ancaman dari rival-rivalnya di masa depan, seperti yang ia lakukan pada para pesaingnya di masa lalu.

“Apa lagi yang bisa beroperasi di lingkungan yang dikuasai U-2?” ujarnya. “Kita melihat U-2 layaknya Bintang Utara dalam konstelasi pengumpulan dan penyebaran informasi secara langsung dalam skala yang sangat besar.”

“Ini adalah lingkungan yang sangat, sangat susah untuk beroperasi,” imbuh Birdsall.

“Mencoba mengembangkan sesuatu untuk menggantikan U-2 atau bahkan melengkapinya di ketinggian itu tidak akan cepat, tidak mudah, dan pasti sangat mahal. Ketika sekarang kita sudah memiliki kemampuan ini, mengapa melakukannya?”

1
5

  • #Pesawat Mata-Mata
  • #pesawat
  • #Amerika Serikat

Close