SOLO – Tradisi malam selikuran kembali digelar Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat di Masjid Agung Solo, Minggu (2/5/2020) malam. Karena ada sesuatu hal, tradisi malam selikuran ini digelar dua sesi di waktu dan lokasi yang sama hanya saja jamnya yang berbeda.

Pihak pertama yang melaksanakan prosesi malam selikuran adalah dari Lembaga Dewan Adat (LDA) Kraton Kasunanan Surakarta yang dipimpin oleh Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Wandansari Koesmurtiyah atau biasa disapa Gusti Moeng.

Dalam pelaksanaanya sesuai dengan kondisi saat ini yang masih dalam pandemi Covid-19, maka kegiatan dilaksanakan secara sederhana namun khidmat. Tidak akan menggunakan kirab ( arak-arakan) seperti tahun sebelumnya.

Baca juga: Takjil Maut Bersianida Tewaskan Anak 9 Tahun, Diduga Melibatkan Anggota Polisi

“Untuk acara malam ini kita hanya menggelar tahlil dan dzikir di Masjid Agung,” jelas Gusti Moeng, Minggu (2/5/2021).

Baca Juga:
  • Gubernur Erzaldi Rosman Ajak Warga Babel Lestarikan Budaya Nganggung
  • Literasi Sejuta Pemirsa, Ganjar Sebut Konsumsi Media di Jawa Tengah Dikuasai Televisi
  • Tinggal 10 Hari Terakhir, Jangan Sia-siakan Ibadah Puasanya!

Karena masih dalam masa pandemi Covid-19, sejak tahun kemarin dan tahun ini pihaknya tidak menyelenggarakan arak-arakan ting (lampu) dan 1000 tumpeng yang biasanya usai didoakan akan dibagikan pada masyarakat yang memenuhi area Masjid Agung.

“Kita hanya gunakan satu tumpeng saja. Intinya kita berdoa, bersyukur masih dipertemukan dengan Ramadhan tahun ini. Dan semoga diberikan anugarah yang luar biasa utamanya bagi Kraton Solo,” imbuhnya.

Usai LDA Kraton Kasunanan Surakarta menggelar tradisi malam selikuran selanjutnya Kraton Kasunanan Surakarta juga menggelar malam acara serupa namun diawali dengan prosesi Kirab tumpeng Sewu dengan peserta terbatas.

Baca juga: 145 Toko Dipalak Lurah untuk THR, Wali Kota Gibran Sigap Mengembalikan

Rombongan abdi dalem membawa jodang sebagai wadah 1000 nasi tumpeng. Disamping itu mereka juga membawa lampion dan lampu ting. Berangkat dari Kraton menuju masjid Agung Solo.

Pengageng Parentah Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, K.G.P.H. Dipokusumo sebut prosesi kirab seribu tumpeng digelar untuk memperingati Malam Selikuran.

Bahwa tradisi yang berlangsung sejak lama. Diawal kirab hanya dilaksanakan dari Kraton menuju Masjid Agung. Namun di masa PX X rute kirab ditambah dari Kraton Surakarta menuju taman Sriwedari (Bon Rojo). “Namun sekarang (kirab) dikembalikan seperti semula. Karena awalnya memang di sini (Masjid Agung),” paparnya.

Gusti Dipo juga menyebut pelaksanaan kegiatan di Masjid Agung ini, merupakan otoritas Sinuhun Pakubuwono dalam hal ini adalah Hingkang Sinuhun PB XIII dalam melaksanakan proses, tradisi, adat Kraton Surakarta Hadiningrat yang sudah turun temurun.

Acara malam selikuran kedua belah pihak berjalan dengan sukses. Terlihat penjagaan ketat oleh petugas Kepolisian dari Polresta Surakarta selama prosesi acara berlangsung.

(msd)