Prancis Tidak Terima Serangan Udaranya Dilaporkan Hantam Pesta Pernikahan

PARIS Prancis menolak laporan PBB yang mengatakan serangan udaranya di Mali tengah pada bulan Januari lalu menghantam pesta pernikahan. Sebanyak 19 warga sipil tewas dalam serangan yang menjadi bagian dari operasi anti-teroris di Sahel.

Apa yang terjadi di desa Bounti di Mali tengah pada 3 Januari tetap menjadi pertanyaan yang menjadi inti perselisihan antara Prancis dan misi penjaga perdamaian PBB di Mali, MINUSMA.

Awal pekan ini, penyelidikan PBB menyimpulkan serangan udara Prancis menghantam perayaan pernikahan yang menewaskan warga sipil dan tiga pria bersenjata, yang diduga anggota dari kelompok militan Katiba Serma.

Baca juga: Serangan Udara Prancis Hantam Pesta Pernikahan di Mali, 19 Warga Sipil Tewas

Baca Juga:
  • PBB: Masyarakat Myanmar Tidak Butuh Kata-kata, Tapi Aksi Dunia Hentikan Junta Militer
  • Hadapi China yang Makin Agresif, Australia Akan Gabung Latihan Perang Prancis
  • Korut Uji Coba Rudal, DK PBB Bakal Gelar Pertemuan Luar Biasa

Selama tiga bulan terakhir, otoritas Prancis membantah bahwa apa pun yang mereka lakukan terhadap pesta pernikahan atau bahwa ada kerusakan tambahan dalam operasi semacam itu.

Dalam sambutannya minggu ini, Menteri Pertahanan Prancis Florence Parly mendukung pasukannya.

Parly membantah keras melakukan kesalahan dengan menjelaskan bahwa serangan udara militer pada 3 Januari di dekat desa Bounti adalah sah dan menargetkan kelompok teroris bersenjata yang sebelumnya diidentifikasi.

Menteri pertahanan Prancis juga meragukan metodologi penyelidikan PBB, mengklaim penyelidikan itu didasarkan pada sumber yang tidak dapat diandalkan.

Close