TEL AVIV – Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu mengatakan dia akan membiarkan mantan anak didiknya yang terasing, Naftali Bennett, menjabat sebagai perdana menteri satu tahun pertama dalam koalisi.

Langkah Netanyahu itu untuk mencegah “pemerintah sayap kiri” berkuasa.

Tetapi Bennett, nasionalis sayap kanan yang muncul sebagai kingmaker setelah pemungutan suara 23 Maret, dengan cepat meredam anggapan bahwa kesepakatan dengan Netanyahu sedang dilakukan.

Baca juga: Polisi Israel Lecehkan Umat Kristen Palestina di Dekat Gereja Makam Suci

Setelah Partai Likud memenangkan kursi terbanyak dalam pemilu Israel keempat dalam waktu kurang dari dua tahun, Netanyahu mendapatkan mandat 28 hari untuk membentuk koalisi pemerintahan.

Baca Juga:
  • Uni Eropa Desak Israel Fasilitasi Pemilu Palestina yang Ditunda
  • Korban Meninggal Tragedi Ziarah Yahudi Israel Bertambah Jadi 45 Orang
  • Khotaman Al-Qur’an di Masjid Bermenara Tanah Liat Tertinggi di Dunia

Baca juga: Gereja di Barcelona Jadi Lokasi Ibadah Umat Muslim Selama Ramadan

Amanat itu berakhir pada tengah malam Selasa-Rabu.

Baca juga: Taiwan Dapat Bantu Membangun Sistem Kesehatan Global Yang Lebih Tangguh dan Inklusif

Pemilu tersebut lebih lanjut menunjukkan perpecahan politik Israel yang sangat dalam dan beragam.

Bagi Netanyahu, mengamankan koalisi berarti mencapai kesepakatan di antara kubu sayap kanan termasuk Bennett, partai-partai Yahudi ultra-Ortodoks, dan juga Partai Raam Islam konservatif.

Netanyahu, perdana menteri terlama Israel dan yang pertama didakwa pengadilan saat menjabat, telah menjadi sosok yang sangat memecah belah.

Pria berusia 71 tahun itu mengatakan dia akan mundur sementara jika itu membantu sayap kanan mempertahankan kekuasaan.

“Untuk mencegah pemerintah sayap kiri, saya memberi tahu Naftali Bennett bahwa saya bersedia menerima permintaannya untuk kesepakatan rotasi di mana dia akan menjadi perdana menteri pertama selama setahun,” papar Netanyahu.