JAKARTA – Pemerintah melakukan berbagai upaya agar kasus COVID-19 di Indonesia bisa terus dikendalikan sehingga tidak terjadi seperti di India. Diketahui, meningkatnya kasus COVID-19 di India menyita perhatian dunia.

“Yang pasti kita terus menerus mengedukasi masyarakat. Adanya larangan mudik itu kan salah satu upaya kita menjaga supaya mengurangi mobilitas,” ujar Juru Bicara Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dr Siti Nadia Tarmizi kepada wartawan, Selasa (20/4/2021). Baca juga: COVID-19 Mengganas di India, 1.761 Meninggal dalam Semalam

Adapun langkah antisipasi lainnya adalah pelaksanaan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) berskala mikro, khususnya di daerah-daerah tujuan mudik, daerah zona merah atau yang kasusnya meningkat. Selain itu, penguatan testing, tracing, treatment dilakukan pemerintah terutama di daerah-daerah tujuan mudik.

Dia menuturkan pemerintah juga terus meningkatkan capaian program vaksinasi. Teorinya, kata dia, bahwa 70% dari sasaran vaksinasi bisa memberikan perlindungan atau menekan laju penularan virus.

“Kita tahu bahwa vaksin kan memberikan perlindungan kepada individu untuk dia tidak menjadi sakit. Kalaupun sakit, tidak parah atau berakhir kematian. Itu perlindungan yang diberikan,” jelas Nadia.

Baca Juga:
  • Nekat Mudik, Kasus Covid-19 di Indonesia Bisa Seperti India
  • Kasus Baru di India, Total 4.282 WNI Positif Covid-19 di Luar Negeri
  • Kisah Sufi Wanita Rabi’ah Al-Adawiyah yang Mengagumkan, Majikannya Pun Kaget

Pemerintah pun berharap kepada seluruh masyarakat agar bisa menahan diri sehingga tidak melakukan mudik. Nadia mengaku bisa memahami bahwa masyarakat menginginkan sekali bisa berkumpul bersama keluarga saat Lebaran.

“Tapi tentunya kita menahan diri jangan sampai kemudian terjadi pelonjakan kasus di kemudian hari. Kita tahu bahwa peningkatan kasus selalu berhubungan dengan mobilitas yang tinggi,” tandasnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, sudah sekitar 17 juta dosis vaksin yang disuntikan sampai saat ini. “Orangnya itu ada 11.100.000 untuk dosis pertama dan dosis kedua 6,1 juta. Jadi sudah 17 juta dosis vaksin yang sudah kita suntikan,” kata Nadia.

Dia melanjutkan jika vaksinasi semakin cepat dan banyak atau 70% jumlah penduduk Indonesia sudah divaksin maka kekebalan kelompok akan terjadi. Kondisi itu pasti akan menekan laju penularan COVID-19.

Fakta sekarang baru sekitar 11 juta orang yang divaksin atau 6% dari target. Kalau dibandingkan jumlah penduduk, angka itu masih kecil. Artinya belum cukup untuk memberikan perlindungan kekebalan kelompok.

Sedangkan mengenai stok vaksin, Nadia mengungkapkan sebenarnya di bulan April ini Indonesia mendapatkan dua sumber vaksin, yakni AstraZeneca dan Sinovac. AstraZeneca menunda pengiriman vaksin. India meminta menunda pengiriman karena ada peningkatan kasus.

“Jadi yang seharusnya vaksin dikirim April, itu baru bisa dikirimkan Mei. Jumlahnya tidak mencapai 11 juta juga, jadi akan dikirimkan kurang lebih sekitar 5 juta,” ungkapnya. Baca juga: Nekat Mudik, Kasus Covid-19 di Indonesia Bisa Seperti India

Dengan keterbatasan stok vaksin, pemerintah melakukan berbagai upaya. “Pemerintah memastikan vaksinasi pada Mei, vaksinnya betul-betul datang. Kemudian, meminta Biofarma untuk meningkatkan kapasitas produksinya,” pungkasnya.

(kri)