TEL AVIV – Seorang jenderal Zionis mengatakan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) membatasi perang baru-baru ini di Gaza selama 11 hari karena tekanan sipil di dalam negeri. Menurutnya, militer sudah benar-benar siap untuk melanjutkannya jika perlu.

Mayor Jenderal Eliezer Toledano, kepala Komando Selatan IDF, menyampaikan hal itu dalam wawancaranya dengan Channel 13, kemarin.

Baca juga: Viral, Jurnalis Radio Ini Wawancarai Live Pria saat Berhubungan Seks Dengannya

Baca Juga:
  • Keruntuhan ‘Final’ Israel Telah Diprediksi Einstein dalam Suratnya
  • Jepang Salurkan Bantuan Hibah Darurat Rp143 Miliar ke Jalur Gaza

“Operasi berakhir, atau setidaknya tahap pertama selesai. Tahap selanjutnya akan terjadi jika kita melihat bahwa situasi keamanan telah berubah,” kata Toledano.

Jenderal tersebut mengatakan perang yang dia sebut baru “tahap awal” itu melibatkan sekitar 1.500 serangan udara terhadap sasaran di Jalur Gaza. IDF mengeklaim target serangannya adalah para anggota Hamas dan fasilitas kelompok itu.

Sayap militer Hamas, Brigade Izzuddin Al-Qassam, menembakkan lebih dari 4.300 roket dan mortir ke Israel selama perang 11 hari.

Sebagian besar proyektil Hamas dicegat oleh sistem pertahanan udara Iron Dome Israel, namun kelompok perlawanan di Gaza memiliki sedikit pertahanan udara dan bom-bom Zionis jatuh di gedung-gedung apartemen di kota berpenduduk padat itu, menewaskan 254 orang, 67 di antaranya adalah anak-anak dan 80 di antaranya adalah anggota Hamas dan Jihad Islam Palestina.

Di Israel, 13 orang tewas, termasuk dua anak-anak, akibat tembakan roket Hamas.

Toledano mengatakan IDF mencoba untuk “memaksimalkan” konflik sementara opini publik di Israel ada di pihak mereka.

“Kami tidak melakukan operasi seperti ini setiap minggu atau setiap bulan karena kami memahami beban yang ditanggung oleh warga sipil, terutama di garis depan rumah. Dan karena itu ketika kami meluncurkan operasi ini, kami harus memanfaatkannya sebaik mungkin,” katanya. “Perang ini rumit dalam hal roket.”

“Kami benar-benar siap untuk melanjutkan dari hari ke-11, dengan hari ke-12, dengan hari ke-13. Itu semua bergantung pada situasi keamanan,” lanjut dia. “Jika kami berhasil dengan tahap pertama ini, itu bagus. Jika tidak, kami harus melanjutkannya.”

Baca juga: Bennett, Calon PM Israel Pengganti Netanyahu yang Sebut Tak Ada Negara Palestina

Operasi militer besar Israel sebelumnya di Gaza, pada 2009 dan 2014, masing-masing berlangsung beberapa minggu dan menewaskan ribuan orang, sebagian besar dari mereka adalah warga Palestina di Gaza, tetapi juga melihat peningkatan signifikan jumlah warga sipil Israel yang terbunuh dan juga terluka.

Setelah gencatan senjata 20 Mei, baik IDF dan Hamas telah mengeklaim kemenangan. Hamas menyebut nama perangnya itu “Pedang Yerusalem” dan mengatakan niatnya adalah untuk menghentikan serangan oleh polisi Israel terhadap jamaah di Masjid Al-Aqsa dan di lingkungan Sheikh Jarrah, di mana beberapa keluarga Palestina berisiko diusir setelah pengadilan Israel memutuskan mendukung pemukim Yahudi.

Namun, sementara IDF mengeklaim telah menghancurkan sejumlah besar roket yang ditimbun dan infrastruktur Hamas dan menembak jatuh sekitar 90 persen roket yang diluncurkan, Times of Israel melaporkan setelah konflik bahwa “Operasi Penjaga Tembok” IDF bukanlah kemenangan gemilang yang diharapkan Tel Aviv.

(min)