JALUR GAZAIsrael mencegah para pasien kanker yang sangat perlu perawatan meninggalkan Jalur Gaza sejak serangan militer terbaru Zionis di Gaza.

Penyeberangan di Gaza telah ditutup sejak 10 Mei, terutama Eretz Crossing, yang lebih banyak digunakan para pejalan kaki daripada barang.

The Washington Post melaporkan para dokter, keluarga dan pembela hak asasi manusia mendesak pemerintah Israel membuka kembali penyeberangan perbatasan untuk kasus medis, setidaknya, sebelum pasien yang paling rentan menjadi sakit kritis dan meninggal.

Baca Juga:
  • Trump Kecam Biden, Sebut Tak Becus Lindungi Israel
  • Liga Arab Sambut Keputusan Dewan HAM Bentuk Komisi Investigasi Selidiki Kejahatan Israel

Baca juga: Polisi Israel Tabrak Bocah Yerusalem karena Pasang Bendera Palestina di Sepeda

Israel mengatakan pekan lalu para pasien asal Gaza dengan izin keluar akan diizinkan menyeberangi Eretz Crossing untuk perawatan. Rezim Zionis itu menyebut kemungkinan tim kemanusiaan, peralatan medis, makanan dan bahan bakar untuk memasuki wilayah Gaza.

Baca juga: Menteri Israel Pimpin Penyerbuan Pemukim Yahudi di Masjid Al-Aqsa

Namun, kelompok hak asasi Israel, Palestina, dan internasional telah melaporkan keluhan dari para pasien Palestina bahwa mereka tidak diizinkan melewati penyeberangan yang dikendalikan Israel.

Baca juga: Bennett, Calon PM Israel Pengganti Netanyahu yang Sebut Tak Ada Negara Palestina

Berbicara pada Washington Post, Hussein Najjar, nelayan dari Gaza selatan, mengatakan ibunya yang berusia 61 tahun telah menjadi lemah dan depresi sejak melewatkan perawatan kemoterapi regulernya di Rumah Sakit Augusta Victoria di Yerusalem Timur. Dia menderita kanker kolorektal dan paru-paru.

“Kalaupun ada janji hari ini, kami belum tahu kapan penyeberangan dibuka dan dia bisa berangkat,” ujar Najjar.

Najjar menjelaskan, “Dia mencari cara untuk bertahan hidup, dan kita tidak dapat menemukannya.”

Situasi keluarga menjadi lebih sulit setelah kapal Najjar hancur bersama beberapa orang lainnya ketika rudal Israel menghantam pelabuhan selama pemboman.

Mereka bertahan hidup dengan sumbangan sekitar USD50 sebulan dari Oxfam International.

“Sistem perawatan kesehatan Gaza yang miskin tidak dapat menyediakan banyak perawatan yang dibutuhkan oleh mereka yang memiliki kondisi paling serius,” papar surat kabar AS itu.

Tidak ada fasilitas perawatan radiasi di Gaza, sehingga membuat pasien kanker mencari perawatan di luar Gaza.

Doctors Without Borders, bersama kelompok hak asasi Israel Maslak, Adalah dan Pusat Pertahanan Individu (HaMoked) mengatakan mereka telah menyampaikan masalah ini kepada pihak berwenang Israel sehubungan pembukaan kembali Persimpangan Eretz.

Mereka menunjukkan pada Senin bahwa mereka belum menerima tanggapan dari Israel.

(sya)