Salah satu keindahan Islam adalah ketika hal-hal kecil yang dianggap sepele ternyata bernilai ibadah di sisi Allah. Salah satunya menampakkan wajah senyum dan ceria kepada sesama manusia.

Bahkan senyum manis kepada saudaranya sendiri diganjar pahala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata pada Jabir bin Sulaim radhiyallahu ‘anhu:

وَلاَ تَحْقِرَنَّ شَيْئًا مِنَ الْمَعْرُوفِ وَأَنْ تُكَلِّمَ أَخَاكَ وَأَنْتَ مُنْبَسِطٌ إِلَيْهِ وَجْهُكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنَ الْمَعْرُوفِ

“Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun walau hanya berbicara kepada saudaramu dengan wajah yang tersenyum kepadanya. Amalan tersebut adalah bagian dari kebajikan.” (HR. Abu Daud No. 4084 dan Tirmidzi No. 2722)

Al-Habib Quraisy Baharun menjelaskan, sebagian orang saleh rahimahullah ketika menjelaskan penggalan hadits di atas mengatakan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada Jabir bin Sulaim agar tidak meremehkan kebaikan sekecil apa pun.

Baca Juga:
  • Ibadah Puasa, Ibadah yang Membuka Pintu-Pintu Kebaikan
  • Ghibah Termasuk Dosa Besar, Begini Penjelasan Habib Quraisy Baharun

Setiap kebaikan hendaklah dilakukan baik itu ucapan maupun perbuatan. Kebaikan apa pun jangan diremehkan. Kebaikan itu adalah bagian dari berbuat ihsan. Allah mencintai orang-orang muhsin (yang berbuat baik).

Jika engkau menolong seseorang untuk menaikkan barang-barangnya ke kendaraannya, itu adalah suatu kebaikan. Jika engkau membantu dalam perkara yang ia butuh, maka itu termasuk kebaikan.

Bila engkau memberi pena pada saudaramu agar ia bisa terbantu dalam menulis, maka itu adalah suatu kebaikan. Meski pula engkau hanya meminjamkan, maka itu adalah bagian dari kebaikan. Jadi jangan remehkan kebaikan sedikit pun, sungguh Allah menyukai orang yang berbuat baik.

Ada suatu kaedah yang bisa mengingatkan seseorang untuk terus berbuat baik pada orang lain, yaitu hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

وَمَنْ كَانَ فِى حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِى حَاجَتِهِ

“Siapa yang menolong saudaranya dalam kebutuhannya, maka Allah pun akan menolongnya dalam kebutuhannya.” (HR Al-Bukhari No. 2442 dan Muslim No. 2580)

Bentuk kebaikan yang Nabi katakan kepada Jabir bin Sulaim adalah berbicara dengan saudara dalam keadaan wajah yang tersenyum. Seperti itu adalah bagian dari kebaikan.

“Jadi ketika bertemu saudara kita hendaklah dengan wajah yang tersenyum, bukan cemberut. Karena sikap seperti termasuk pula dalam memberikan kebahagiaan pada orang lain. Membuat orang lain bahagia adalah bagian dari kebaikan dan termasuk bentuk berbuat baik pada orang lain. Allah pun menyukai orang yang demikian,” kata Habib Quraisy.

Yang perlu dicatat, tidak setiap waktu kita mesti bermurah senyum pada orang lain. Kadang seseorang melakukan sesuatu yang tidak terpuji, maka saat itu tentu saja kita tidak berwajah senyum di hadapannya dalam rangka untuk mengingatkan kesalahannya. Tujuannya, untuk menyadarkan sikapnya sehingga lebih baik dan lebih beradab.

Mulai saat ini, mari belajar untuk bermurah senyum dan tidak meremehkan kebaikan sedikit pun. Semoga Allah memberi taufik-Nya.

Baca Juga: Hadis-hadis Tentang Dianjurkannya Tersenyum

(rhs)