ANKARA – Pejabat pengadaan pertahanan Turki Ismail Demir menyatakan pemerintah akan memprioritaskan produksi jet tempur TF-X.

Diperkirakan ada kerugian USD1,4 miliar untuk industri lokal setelah Turki didepak dari program F-35 Joint Strike Fighter yang dipimpin Amerika Serikat (AS).

AS memutuskan mendepak Turki dari program multinasional itu sebagai tanggapan atas keputusan Ankara memperoleh dan menggunakan sistem rudal permukaan-ke-udara S-400 buatan Rusia.

Baca juga: Polisi Turki Usir Para Pengikut Alparslan Kuytul dari Tiga Masjid

Pejabat kedirgantaraan Turki mengatakan perusahaan domestik yang terkait upaya produksi F-35 akan memenuhi komitmen memproduksi ribuan suku cadang hingga tahun depan, tetapi pesawat F-35 tersebut tidak akan dikirim ke Angkatan Udara Turki.

Baca Juga:
  • Soekarno Disetujui Jadi Nama Jalan di Turki, Jakarta Siapkan Timbal Balik
  • Beranikah Turki Balas AS dengan Akui Genosida Suku Indian Amerika?
  • Pemkot Depok Terbitkan Aturan Itikaf, Idul Fitri dan Larangan Mudik

Baca juga: Menteri Kesehatan Irak Mundur setelah Kebakaran RS Tewaskan 80 Orang

Industri Dirgantara Turki sedang merancang, mengembangkan dan akan membangun TF-X, yang menargetkan menerbangkan pesawat sekitar jangka waktu 2025-2026.

Baca juga: Amuk COVID-19 di India, Jumlah Kasus Tembus Lebih dari 20 Juta

“Pemerintah telah mengalokasikan tambahan USD1,3 miliar untuk Fase 1 program TF-X. Sebanyak 6.000 insinyur sedang mengerjakan program ini,” ungkap CEO TAI Temel Kotil.

Dia menambahkan perusahaannya akan segera membangun hanggar pertama untuk TF-X serta terowongan angin terbaik kedua di Eropa untuk pengujian pesawat itu.

“(Prioritas utama) saya adalah program TF-X. Itu pasti harus dilakukan,” ujar Kotil.

(sya)