ANKARA – Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden telah resmi mengakui bahwa pembantaian pasukan Kekaisaran Ottoman terhadap orang-orang Armenia pada 1915 sebagai genosida. Pemerintah Turki marah dan mengancam akan membalas.

“Rakyat Amerika menghormati semua orang Armenia yang tewas dalam genosida yang dimulai 106 tahun lalu hari ini,” kata Biden dalam sebuah pernyataan memperingati Hari Peringatan Genosida Armenia, Sabtu pekan lalu.

Baca juga: Tegang dengan AS, Turki Didesak Aktifkan Sistem Rudal S-400 Rusia

Itu adalah langkah yang datang terlalu lama, ditunda selama bertahun-tahun untuk memelihara apa yang telah menjadi hubungan yang hancur dengan Turki.

Juru bicara Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Ibrahim Kalin, mengatakan Ankara akan membalas dalam beberapa bulan mendatang.

Baca Juga:
  • Menlu Rusia: Hubungan AS-Rusia Lebih Buruk daripada Selama Perang Dingin
  • Beri Pengecualian, Blinken Izinkan Pelajar dan Jurnalis Asing Masuk AS
  • Kisah Lelaki Ahli Maksiat Diangkat Menjadi Waliyullah

“Akan ada reaksi dalam berbagai bentuk, jenis dan derajat dalam beberapa hari dan bulan mendatang,” kata Kalin kepada Reuters.

Kalin tidak merinci apakah salah satu pembalasan itu adalah Ankara akan membatasi akses AS ke pangkalan udara Incirlik di Turki selatan. Pangkalan itu telah digunakan untuk mendukung koalisi internasional dalam memerangi ISIS di Suriah dan Irak.

Presiden Erdogan sendiri telah membahas masalah tersebut setelah rapat kabinet pada hari Senin, namun belum jelas pembalasan seperti apa yang akan dilakukan Ankara terhadap Washington.

“Pada waktu dan tempat yang kami anggap tepat, kami akan terus menanggapi pernyataan yang sangat disayangkan dan tidak adil ini,” kata Kalin.

Ketua Partai Gerakan Nasionalis (MHP) Devlet Bahceli mengatakan hubungan Ankara dengan Washington berada di persimpangan sejarah setelah penggunaan kata “genosida” oleh Presiden Biden dalam peringatan tahunan peristiwa 1915. Dalam peristiwa 1915, sekitar 1,5 juta orang Armenia dilaporkan dibantai oleh pasukan Kekaisaran Ottoman sebagai respons atas pembantaian komunitas Muslim di Anatolia timur oleh geng-geng kriminal Armenia.

Bahceli menuduh AS mencoba menggunakan peringatan 24 April sebagai alat untuk menekan Turki. Dia juga mengingatkan genosida yang dilakukan oleh AS terhadap orang Indian Amerika selama abad ke-19, termasuk orang Indian Seminole di Florida.

Setelah deklarasi Biden, sebuah artikel dari 2019 mulai beredar di Twitter. Saat itu, setelah Senat mengeluarkan resolusi yang mengakui genosida Armenia, Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan, mengancam akan memberi AS obatnya.

Berbicara di saluran berita A Haber yang pro-pemerintah, Erdogan kala itu berkata: “Kita harus menentang [AS] dengan membalas keputusan seperti itu di parlemen. Dan itulah yang akan kami lakukan.”